Sunday, August 23, 2015

100 Hari, Mengenangmu Sahabat
  
cermin sahabat

kucari cermin
tak kutemui,
sejak kau berangkat
jauh-jauh

hanya aku tersilau
oleh pantulan bayang masa lalu
yang menyusur jejak,
tanpa henti

yang tersisa,
jalan panjang
bernama keharuan,
kenangan pun mengalir jauh
bak jeram teduh di dalam hati

kini tinggal doa
di balik berlapis air mata
keakraban kita semalam
kini terpisah di hujung simpang;
antara lorong fana dan jalan abadi

kematian memang menyedihkan,
tapi segala yang bernama kenangan
akan mercup tumbuh
dan kami suburkan
dengan wangi kembang doa dan ingatan

dakaplah kini sepuas-puasnya Kekasihmu
seperti kau menyisihkan kerinduan yang sarat;
kerinduan yang dulunya, sering kau lantunkan
dalam getar bening puisi putihmu

perpisahan semakin menyedarkan
usia hanyalah seperti daun melayah
dan debu berserak di halaman,
diterbangkan angin waktu

kau pernah menyatakan,
seperti air mata
hidup juga bersifat sementara

yang kucari,
cermin
sebenarnya, peribadimu.

RIDZUAN HARUN
KL,
20-21 Mei 2015

2 comments:

Unknown said...

terlalu indah.

benuasuluk said...


Terima kasih Rozais. Syahdu terasa dapat komen seperti ini.