Wednesday, September 16, 2009

Ya Rabb, Ketika Syawal Hampir Menjelang
Aku Berdoa Semoga dipulangkan Adik Sharlinie Kami

Puisi ini saya tulis dalam galau-kacau jiwa sempena ulangtahun kelahiran adik Sharlinie tahun lalu. Saya tersedu-sedu sewaktu menulis dan mengeditnya. Sharlinie bukan siapa-siapa di hati saya. Tapi dia tetap anak kita. Ya Allah, betapa tragedi adik Nurin Jazlin dulu sangat menghukum kita ...

Pada Hari Ulangtahunmu Sharlinie, Kutuliskan Sebuah Puisi

Pada hari ulangtahunmu, Sharlinie
kutuliskan sebuah puisi payah
tentang makna menjadi manusia

Jemariku bergetar menyusun aksara pedih
tentang rindunya ibu menghimpun doa
tentang galaunya bapa menghitung harap
dan bingungnya kami yang mendoakanmu dalam resah

Sungguh, terasa begitu payah
menemukan sebuah kata dalam baris puisiku
saat dukacita menatap gambarmu saban hari
entah dari mana sepasang tangan ghaib
menggentas semangat bonda
merentap naluri lelaki bapa

Hari ini ulangtahunmu, Sharlinie
kususun bahasa pedih dalam rawan yang tiba
sesekali terfikir, semakin bangsa menanjak ke angkasa
rupanya di bawah, manusia makin kosong jiwa
sesekali terasa, slogan demi slogan besar
gagasan demi gagasan bergegar
tidak mampu mengajar kita menjadi manusia luhur
kemanusiaan sebenarnya telah runtuh di sini

Tak pernah kutulis sebuah kata puitis dan manis
pada setiap hari ulangtahun anak-anakku
hari ini dalam diam aku berdoa
sebuah puisi kecil ini, untukmu

Tak pernah ada kenangan antara kita, Sharlinie
tapi ini hari ulangtahunmu
dengan naluri seorang bapa
kuhadiahkanmu segugus puisi putih ini
dalam doa dan harapan
dalam jauh dan dekat antara kita

Seperti juga anak-anakku,
kutatapmu dengan seluruh kasih
pada wajahmu yang bersih.

30 Januari 2008, Kuala Lumpur

No comments: