"Siri Sajak-sajak Nakal"
Puisi untuk perempuan yang pernah “kita” sayang
Puisi untuk perempuan yang pernah “kita” sayang
(kepada mona)
kadang-kadang
sering saja kau masuk ke dalam mimpiku
lalu dengan pantas mengheret aku jauh
mengimbau masa sudah
aku masih sering saja ke sini
dalam angan dan cita
seperti mana ketika kita pernah
tiba di satu taman suatu pagi
ketika remaja kita dikepung warna pelangi
sayang
seperti pelangi yang ada
dan kemudiannya berlalu
masa remaja kita pun menggelungsur
ditujah deru usia yang beredar
apa khabar, mona
kuseru namamu sesekali apabila resah
sedang kutahu kau di sana tetap ada
tetapi jauh.
8 comments:
mona jangan,jangan,jangan...
mona jangan
jangan kau
hadir dalam
mimpi si leher yang tiada
itu,
mona
jangan kau bermimpi
untuk hadir membawa
haruman wangi dalam mimpi
si boyot itu
mona,
jangan mona jangan
kau ingin untuk melukis
warna warna pelangi pada
si tengkok pendek itu
biar saja si boyot itu
berlalu dalam mimpi hitammu
mona,
jangan kau mona
jangan kau cuba
untuk hadirkan diri
dalam mimpi bisul
si boyot itu
biarkan dia mona
biarkan dia
dengan bantal busuknya
biarkan biarkan biarkanlah
dia mona...
dan saja jangan pula
kau saja saja untuk menghimpit
dalam mimpi mona.
uhh mona plak
che wan ni kan
Mona,
Pernah lah sekali duaaku mimpi, tapi cuma mimpi, siapa la aku nak bermimpikan Mona...
awang,
lu dari dulu sampai la tak habis-habis cemburukan gua!
farah,
dulu-dulu mona,
sekarang farah la
hak hak
adi,
betul tu, siapalah hang untuk mimpikan mona hak hak
best puisi ni. hehe
sdr. Ariff,
alah puisi-puisi nakal je, :)
Post a Comment